
Well, tulisan dan gambar-gambar ini seharusnya merupakan rilis resmi UAS Penulisan Feature kuliah semester lalu. Sayang, tulisan tentang pelukis billboard film kurang menarik bagi media, barangkali... Ini juga yang akhirnya menjadi salah satu faktor mengapa nilai akhir kuliahku itu menjadi D. Ha ha!
Jadi, daripada dibuang sayang, lebih baik aku membagi sedikit dari apa yang kulihat dalam proses melukis poster film yang kini semakin langka digunakan di Jakarta setelah majunya percetakan digital.
Dimulai dari wawancara di daerah Jagakarsa bersama temanku Audryn November tahun 2009, kami melihat proses melukis baliho yang digunakan untuk tayangan film-film baru di berbagai bioskop. Kami mewawancarai pengusaha lukisan baliho ini yang bernama Kemal. Dia bercerita banyak mengenai pekerjaan 'kreatif' yang kini semakin langka. Bayangkan, untuk seluruh Indonesia ini hanya terdapat empat studio lukis khusus baliho film. Kemal adalah salah satunya. Dia khusus menerimakan orderan film buatan sineas Indonesia.
Studio tempat Kemal memroses kain dan cat menjadi uang ini berisi sekitar 5-7 perkerja yang mengolah gambar dan tulisan. Terdapat tukang cat background yang bertugas memberikan warna dasar untuk gambar, tukang letter yang melukiskan huruf-huruf,dan tukang lukis yang tentunya melukis...

Tukang Background

Tukang Letter

Pelukis
Pembuatan sebuah baliho film bisa diselesaikan dalam waktu satu hari, kira-kira delapan jam.
Pertama, yang dilakukan adalah memasangkan kain belacu pada rangka yang telah diberi gambar sketsa awal untuk semua baliho. Sketsa untuk jiplakan semua balih ini dipasang hingga semua pekerjaan telah selesai. Kira-kira terdapat sekitar 60 baliho yang dibuat untuk seluruh Indonesia.
Setelah dijiplak dari sketsa, barulah tukang background mengecat warna latar yang diperlukan untuk baliho. Biasanya, ketiga pelukis ini sudah membuat campuran warna dasar yang akan digunakan. Menurut Kohar, pelukis membutuhkan warna hitam, merah, biru, kuning, dan putih. "Kalau butuh warna lain tinggal dicampur," ujar Kohar. Cat yang digunakan untuk melukis baliho adalah cat tembok.

palet cat
Kala jaman dulu, lukisan untuk film-film menggunakan media hardboard dan cat minyak. Seiring berkembangnya teknologi cetak digital dan masa tayang film yang semakin singkat, pilihan menggunakan bahan-bahan yang murah ini merupakan solusi yang paling oke.
Proses pewarnaan berlangsung sekitar satu jam dan biasanya dipercepat dengan pengeringan yang dilakukan dengan memanaskan kain dari bakar-bakaran kayu. Tukang lukis juga mulai bekerja membuat garis-garis tegas untuk menggambarkan sementara rupa para selebriti di lembar kain belacu itu. Pekerjaan tukang letter menyusul kemudian setelah dua tukang lukis lainnya sudah kelar mewarnai.

sketsa gambar

Dalam satu hari, seorang pelukis bisa menyelesaikan hingga tiga baliho bersama-sama.
Ada apa ini?
Pelukis baliho film menjadi jarang karena pekerjaan ini tidak menjanjikan sebagaimana yang terjadi pada percetakan digital yang kini bertebaran dimana-mana. Bayaran tukang lukis kini berpacu dengan semakin murahnya biaya cetak ukuran raksasa. Pengusaha terus mengusahakan agar usaha ini tidak mati karena masih juga dipertimbangkan faktor kemanusiaannya.
Lantas, setelah digencat dari sana sini pun pelukis ini masih bertahan. Kohar (42) sebagaimana diwawancarai bulan November lalu mengatakan bahwa tidak ada lagi generasi yang lebih muda darinya, yang bekerja serupa. Sulitnya memperlebar kesempatan pada perkejaan ini tentu merupakan satu lagi penghambat selain sulitnya generasi baru kini melukis dibandingkan 'melukis' dengan kamera digital.
Apakah pekerjaan ini akan mati? Perlahan-lahan tentu. Bersyukurlah kita masih bisa menikmati lucunya (menurutku) wajah para selebriti hasil goresan kuas para tukang gambar ini. Paling tidak sampai beberapa tahun kedepan lah...
(diringkas dari tulisan "Generasi Terakhir Pelukis Billboard"; tulisan yang tidak terpublikasikan)
